KOMPOR BIOMAS TEKNOLOGI TEPAT GUNA Lebih Praktis dari pada Elpiji 3 Kg
Penerapan teknologi tepat guna (TTG) merupakan solusi penanggulangan kemiskinan di pedesaan sehingga perlu diberdayakan di masyarakat. Teknologi tepat guna memiliki manfaat besar bagi masyarakat pedesaan. Selain harganya murah, teknologi itu ramah lingkungan dan sangat sederhana pemanfaatannya. Demikian antara lain disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Boediono, saat membuka pameran TTG IX se-Indonesia di Manado, Sulawesi Utara, beberapa waktu yang lalu.
Dalam konteks ini saya ingin menyampaikan bahwa sejak beberapa bulan lalu saudara Ahmad Sucipto dari Brebes, Jawa Tengah, telah mendemonstrasikan melalui beberapa stasiun televisi swasta pengoperasian kompor biomas (kompor dedak) ciptaannya. Kompor ini cukup berhasil dan sukses, tetapi kurang mendapat perhatian dari pemerintah, dalam hal ini Kementerian Negara Koperasi dan UKMP.
Padahal, kompor biomas ini jauh lebih praktis dari kompor elpiji 3 kg yang telah disebar pemerintah ke seluruh Indonesia. Bahan bakar yang digunakan kompor biomas ini adalah serbuk nabati (sekam/dedak padi, jerami padi, serbuk kayu gergaji, dan sejenisnya). Kompor biomas ini dapat menghasilkan api yang bagus dengan asap minimal. Untuk penyalaan 1,5-2 jam hanya memerlukan 1,2 kg sekam/dedak padi. Sebagai penghangat, bara apinya dapat bermanfaat selama 4-5 jam.
Jika teknologi tepat guna merupakan solusi penanggulangan kemiskinan di pedesaan, alangkah baiknya bila pemerintah melirik kompor biomas asal Brebes ini.
H Slamat SMJl Karya No. 1/Pramuka, Rajabasa Bandar Lampung 35144
Penerapan teknologi tepat guna (TTG) merupakan solusi penanggulangan kemiskinan di pedesaan sehingga perlu diberdayakan di masyarakat. Teknologi tepat guna memiliki manfaat besar bagi masyarakat pedesaan. Selain harganya murah, teknologi itu ramah lingkungan dan sangat sederhana pemanfaatannya. Demikian antara lain disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Boediono, saat membuka pameran TTG IX se-Indonesia di Manado, Sulawesi Utara, beberapa waktu yang lalu.
Dalam konteks ini saya ingin menyampaikan bahwa sejak beberapa bulan lalu saudara Ahmad Sucipto dari Brebes, Jawa Tengah, telah mendemonstrasikan melalui beberapa stasiun televisi swasta pengoperasian kompor biomas (kompor dedak) ciptaannya. Kompor ini cukup berhasil dan sukses, tetapi kurang mendapat perhatian dari pemerintah, dalam hal ini Kementerian Negara Koperasi dan UKMP.
Padahal, kompor biomas ini jauh lebih praktis dari kompor elpiji 3 kg yang telah disebar pemerintah ke seluruh Indonesia. Bahan bakar yang digunakan kompor biomas ini adalah serbuk nabati (sekam/dedak padi, jerami padi, serbuk kayu gergaji, dan sejenisnya). Kompor biomas ini dapat menghasilkan api yang bagus dengan asap minimal. Untuk penyalaan 1,5-2 jam hanya memerlukan 1,2 kg sekam/dedak padi. Sebagai penghangat, bara apinya dapat bermanfaat selama 4-5 jam.
Jika teknologi tepat guna merupakan solusi penanggulangan kemiskinan di pedesaan, alangkah baiknya bila pemerintah melirik kompor biomas asal Brebes ini.
H Slamat SMJl Karya No. 1/Pramuka, Rajabasa Bandar Lampung 35144
Sumber : Republika
